CorongNusantaraNews.com — Bogor – Minggu, 21 Juni 2026. Menjelang 10 Muharram 1448 Hijriah yang di masyarakat Indonesia dikenal sebagai “Lebaran Yatim”, umat Muslim di berbagai daerah berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan menyantuni serta memberikan perhatian kepada anak-anak yatim.
Momentum 10 Muharram menjadi pengingat pentingnya kepedulian sosial terhadap mereka yang kehilangan ayah sejak usia dini. Selain memberikan bantuan berupa santunan, umat Islam juga dianjurkan untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak yatim, salah satunya dengan mengusap kepala mereka secara lembut sambil mendoakan kebaikan.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada anak yatim. Salah satu hadis yang populer menyebutkan bahwa orang yang mengusap kepala anak yatim karena Allah SWT akan memperoleh pahala kebaikan pada setiap helai rambut yang disentuhnya.
Para ulama menjelaskan bahwa mengusap kepala anak yatim bukan sekadar gerakan fisik, melainkan simbol kasih sayang, perhatian, dan upaya menghibur hati mereka. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan doa yang dianjurkan saat mengusap kepala anak yatim, yakni:
“Jabarallahu yatmaka wa ja’alaka khalafan min abik.”
Artinya: “Semoga Allah memperbaiki keadaan yatimmu dan menjadikanmu pengganti yang baik bagi ayahmu.”
Selain mengusap kepala, bentuk kepedulian yang lebih utama adalah memenuhi kebutuhan hidup anak yatim, membantu pendidikan mereka, memberikan perlindungan, serta memastikan hak-hak mereka terpenuhi.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 9:
“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”
Sementara itu, Rasulullah SAW juga memberikan kabar gembira bagi mereka yang memelihara dan menyantuni anak yatim. Dalam hadis riwayat Bukhari, beliau bersabda bahwa orang yang menanggung anak yatim akan berada sangat dekat dengan Rasulullah SAW di surga, seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah.
Menyambut 10 Muharram 1448 H, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadikan santunan anak yatim sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi sebagai gerakan sosial yang berkelanjutan. Dengan perhatian dan kepedulian bersama, anak-anak yatim dapat tumbuh menjadi generasi yang kuat, berakhlak mulia, dan memiliki masa depan yang lebih baik.(Gus)








